Tanggal 30 Desember 2008 malam keluargaku berangkat ke Kota Bunga di Puncak untuk merayakan Tahun Baru bersama keluarga besar orangtuaku. Ada pengalaman yang ga mungkin saya lupakan pada tanggal 31 Desember karena campur aduk perasaan menjadi satu dan berakhir indah....
Pada malam tahun baru biasanya umat kristiani ke gereja untuk misa pergantian tahun, karena untuk pertama kalinya merayakan pergantian tahun di Puncak maka tante saya menanyakan jadwal misa di gereja Cipanas dan satu lagi gereja yang saya lupa namanya tapi letaknya sebelum gereja Cipanas. Misa diadakan pukul 18.30 di gereja Cipanas dan 19.00 di gereja yang lain. Pukul 17.30 saya dan keluarga berangkat untuk mengikuti misa pukul 18.30, ternyata keluar Kota Bunga semua kendaraan diwajibkan lewat jalur menuju Taman Bunga Nusantara. Tidak jauh di perempatan menuju Taman Bunga Nusantara lalu lintas menuju Cipanas, Bandung dan Cianjur mengalami macet total. Melihat kendaraan di depan menuju jalan tikus akhirnya mobil saya mengikuti mobil tersebut, itupun setelah om saya bertanya kemana tujuan dari jalan tersebut. Ternyata yang kami lewati adalah sawah dan perumahan penduduk setempat yang lebar jalannya hanya cukup satu mobil. Pada awalnya perjalanan kami lancar sampai mobil di depan kami berhenti, antrian mobil ini berhenti cukup lama sehingga misa 18.30 & 19.00 harus kami lewatkan. Selama kemacetan om saya keluar untuk melihat keadaan dan berbincang dengan penduduk sekitar. Om saya baru tahu kalo ternyata kami salah jalan, jalan tikus ini bukan keluar menuju jalan utama Cipanas tapi masih sepanjang jalan Kota Bunga dan kemacetan ini disebabkan penutupan ruas jalan untuk memperlancar kendaraan Presiden SBY lewat.
Selama di mobil saya kepikiran gimana caranya saya bisa gereja, sedangkan di Puncak hanya 2 gereja itu yang saya ketahui. Mungkin kerinduan saya mau curhat sama Yesus dan kewajiban untuk gereja yang membuat saya berpikir dimana lagi saya harus misa. Thanks God, saya ingat cerita teman saya kalo dia pernah mengikuti misa di Romo Yohanes lalu saya cari infonya, teman saya memberikan informasi nama tempatnya Lembah Karmel dan nomor telponnya. Informasi dari Lembah Karmel misa dimulai jam 10 malam dan Lembah Karmel sekitar 4 km dari Kota Bunga.
Akhirnya yang berangkat misa hanya saya, tante dan 1 sepupu. Kami tidak diantar dengan mobil karena keluar Kota Bunga saja jalanan sudah macet mencoba naik motor pun tidak bisa lagi karena jalanan sudah penuh sekali dengan kendaraan dan manusia. Dengan semangat saya tetap terus ke Lembah Karmel dengan harapan Tuhan akan menunjukkan jalan gimana caranya saya bisa sampai walaupun hanya dengan jalan kaki dan modal nekat mencari Lembah Karmel.
Sulit sekali bagi kami untuk bisa berjalan karena jalanan memang sudah padat dan saya gelisah karena Lembah Karmel tidak terlihat juga. Lalu saya bertanya letak Lembah Karmel pada satpam Villa Galaxy, satpam itu kaget mendengar tujuan saya. Satpam itu bilang Lembah Karmel itu jauh sekali dan melewati hutan kalau naik ojek sekitar 20 ribu. Tante saya mulai goyah untuk gereja karena tidak bawa kendaraan dan harus melewati hutan, tante kuatir dengan keselamatan kami apalagi hanya sepupu saya yang pria. Saya bilang kita tetap terus walaupun dalam hati saya berujar kalau naik ojek sangat tidak aman melewati hutan. Saya takut tapi saya tidak mau mundur, saya pernah mengalami kesulitan yang lebih dalam lagi dengan ka Kiki tapi saya bisa bertahan bukan karena kemampuan saya tapi karena Tuhan. Mendekati perempatan menuju Taman Bunga Nusantara saya melihat angkot kuning sedang putar balik lalu saya bertanya berapa sewanya untuk mengantar kami ke Lembah Karmel, ini saya lakukan karena naik ojek bisa membuat keluarga saya berpencar padahal letak Lembah Karmel saja kami tidak tahu. Kesepakatan tercapai dengan supir angkot yang saya anggap supir ini pasti belum punya SIM. Sebelum mobil berjalan muncul beberapa anak muda usia tanggung masuk angkot kami, mereka semua adalah teman supir angkot. Kami bertiga duduk merapat, dalam hati saya berdoa Bapa Kami, Salam Maria dan Kemuliaan. Saya dan tante adalah makhluk paling cantik dari 11 orang, tante mulai panik karena Lembah Karmel tidak terlihat juga padahal kami sudah 4 km perjalanan belum lagi tante bingung bagaimana cara kami pulang melihat kondisi jalan yang sepi dan jarang rumah. Saya bilang ke tante kalau kita mau pulang biar angkot ini saya minta putar balik tapi saya juga bilang kalo pribadi saya ditanya saya tetap ingin gereja. Saya juga harus memikirkan ketakutan tante, saya tidak mau egois memaksa tante dan sepupu untuk ke gereja tetapi dalam hati saya berdoa Tuhan tolong beri kekuatan pada tante saya karena saya bisa sejauh ini berkat Engkau. Tante saya tidak berkomentar lagi, saya pun memastikan ke supir apakah dia tahu letak Lembah Karmel dan supir yakin tahu letaknya yang memang jauh.
Akhirnya sampai juga kami di Lembah Karmel, setelah transaksi pembayaran sewa angkot selesai saya menanyakan kesediaan supir untuk menjemput kami jam 00.30 karena tidak mungkin bagi kami untuk pulang berjalan kaki. Supir yang awalnya tidak bersedia menjemput karena ingin merayakan tahun baru akhirnya berubah pikiran dan kami diminta menunggu sampai pukul 01.30, tidak masalah bagi saya yang penting ada kendaraan pulang. Kami harus berjalan menanjak menuju tempat misa dan sudah telat 15 menit. Suasana khidmat dan homili dengan tema pengharapan begitu mengena pribadi rapuh saya. Mendekati pukul 00.00 kami menghitung mundur menuju awal tahun 2009 dan tidak ketinggalan bunyi terompet bersahut-sahutan. Karena kami berada di ketinggian kami bisa melihat lampu rumah penduduk dan warna warni kembang api, untuk pertama kalinya saya merayakan tahun baru di luar rumah dan menjadi pengalaman yang tak terlupakan.
Setelah misa selesai saya meletakkan 1 lilin di depan patung Bunda Maria yang memangku Yesus, dalam doa saya panjatkan agar saya dan ka Kiki selalu rendah hati, bertanggung jawab dan bijaksana dalam mengambil keputusan dalam hidup. Doa tulus untuk orang yang saya benci karena saya mau belajar memaafkannya secara utuh. Happy New Year ka!!!!!
Sambil menunggu jemputan, tante bercerita tentang kekuatirannya selama perjalanan menuju Lembah Karmel. Ternyata di dalam angkot ada bau minuman berasal dari pria yang duduk di pojok, makanya tante takut jika kami harus pulang naik angkot itu lagi apalagi mereka baru pesta merayakan malam tahun baru. Saya memang tidak mengerti dengan bau alkohol, pengalaman tante yang lebih banyak membuat saya harus waspada juga akan hal-hal yang buruk. Minta dijemput adalah salah satu cara aman walaupun kami harus menunggu lebih lama, lalu kami diminta menunggu karena om akan menjemput. Supir angkot menepati janjinya menjemput, mereka hanya terlambat 15 menit dari pukul 00.30. Karena tante tidak mau lagi naik angkot, kami menghindarinya agar tidak terlihat lalu supirnya akan meninggalkan kami. Pukul 02.00 om saya sudah mendekati Lembah Karmel dan kami memutuskan untuk menunggu di gerbang saja, ternyata supir angkot tadi menunggu kami lebih dari 1 jam. Ketakutan tante berubah menjadi rasa kagum kepada supir angkot dan teman-temannya karena disaat kami mencurigai, mereka dengan setia menjemput dan menunggu kami padahal mereka meninggalkan kebahagiaan pesta malam tahun baru. Saya tulis sebagai pengalaman yang tak terlupakan karena banyak hal yang membangun kehidupan pribadi. Saya belajar lagi untuk memohon, bersabar, berpasrah, setia, memaafkan, berharap dan saya belajar tiada yang mustahil dalam nama Tuhan. Bukan hal baru dari pernyataan saya, tapi untuk saya yang berada di level terendah dalam hidup kejadian ini membuat saya bersukacita.
Unforgettable Exprience
Labels:
True Story