“Kasih itu sabar, kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1Kor 13:4-7).
Ketika saya baca firman ini saya ingat ka Kiki, orang yang pernah mengisi hari-hari saya dengan banyak hal. Komunikasi kami terputus karena ka Kiki ingin mereset saya dari kehidupannya, baginya mengenal saya adalah suatu kesalahan. Rasa sayang yang dulu ada pada kami berubah menjadi kebencian, hal yang biasa terjadi kalau seseorang disakiti perasaannya. Saya amat tersakiti, muak dan benci dengan sikap ka Kiki yang tidak berani menghadapi masalah dan lebih memilih kebahagiaannya.
Rasa benci begitu menguasai saya sehingga menjadikan saya orang yang sombong. Saya pernah berucap, tidak ada yang mustahil bagi Tuhan tapi akan mustahil bagi Tuhan untuk menyatukan saya dan ka Kiki. Kebencianlah yang membuat saya yakin bahwa apapun yang berhubungan dengan saya dan ka Kiki, rencana Tuhan bukan hal yang misterius. Kebencian membutakan saya dari pengharapan, bagi saya dan ka Kiki semua sudah terlihat jelas bahwa kebersamaan adalah hal yang mustahil makanya Tuhan tidak lagi misterius. Efek kebencian membuat saya tidak larut terlalu lama dalam kesedihan karena berpisah dari ka Kiki, padahal dengan kekasih sebelumnya saya butuh 2 tahun untuk bisa melupakan. Walaupun ada rasa benci, relasi saya dengan Tuhan tetap dekat. Berdoa, membaca buku-buku renungan, mendengar khotbah, share dengan orang lain menjadi menu utama untuk bisa bangkit dari masalah, karena saya berpendapat seberat apapun masalah saya, Tuhan selalu menuntun saya pada yang terbaik. Ini bisa saya buktikan saat berpisah dengan kekasih pertama, perbedaan agama membuat kami memutuskan pisah padahal kami saling menyayangi. Segala macam doa saya panjatkan terus menerus agar kami bisa bersatu dalam Kristus, tapi sudah 2 tahun permohonan saya tidak terkabul juga. Permohonan saya memang tidak terkabul tapi Tuhan menuntun ke yang lebih baik yaitu ka Kiki. Dengan bekal keyakinan ini saya yakin bisa tanpa ka Kiki.
Keyakinan bahwa Tuhan akan selalu memberi yang terbaik, membuat saya memiliki kekuatan untuk bangkit menata masa depan saya. Ada proses jatuh bangun untuk memahami apa yang saya ingini dan apa yang ada di hati nurani, keduanya menuju kebahagiaan tapi jalan yang ditempuh sangat berbeda jauh. Yang saya ingini adalah kebahagiaan instant sedangkan hati nurani saya memberikan kebahagiaan yang sulit untuk saya lalui. Melupakan ka Kiki adalah kebahagiaan yang ingin saya raih dan hati nurani menginginkan saya mencoba bersama ka Kiki walaupun sulit bagi saya melewatinya bersama orang yang saya benci. Pada akhirnya saya mencoba mengikuti hati nurani, menjelaskan kepada ka Kiki apa yang saya rasakan dan berjuang agar ka Kiki terbuka hatinya, tapi jawaban penolakan yang saya terima. Sudah benci tambah benci lagi, kenapa Tuhan mempermudah semuanya untuk ka Kiki, sedangkan saya harus berjuang sendiri menanggung semuanya baik itu saat pertobatan atau pada saat saya ingin bahagia. “Kenapa ini terjadi pada saya?”
Perjuangan saya untuk ka Kiki berhenti pada saat saya tidak mampu lagi, keputusan saya melepas ka Kiki karena sudah pasrah dan saya ingin meraih kebahagiaan. Saya percaya hati nurani saya berasal dari Tuhan dan menuju pada kebahagiaan sejati tapi saya manusia biasa yang punya batas sabar dan kemampuan. I belief If God brings me to it, He will bring me through it. Saya mencoba menjalaninya dengan cara berdoa dan percayalah pada Tuhan saat anda berada di level terbawah sekalipun. Jangan hindari Tuhan walaupun anda merasa dunia ini tidak adil, jika muncul keraguan dalam proses belajar untuk bangkit dari masalah coba renungkan sabda ini ”Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau” (Luk 1:35). Roh Kudus yang akan memampukan atau memberdayakan kita sehingga kita dapat menghayati dan melaksanakan sabda-sabda Tuhan. Saya dan anda harus sadar bahwa kita tidak bisa menolong diri kita sendiri, tetapi hanya penyertaan, pertolongan dan karya Tuhan yang sanggup memulihkan keadaan hidup kita.
Saya tidak tahu apa yang anda alami tapi perpisahan saya dengan ka Kiki saya rasakan sebagai masalah yang paling berat sampai saat saya menulis cerita ini. Daripada berkonsentrasi pada semua masalah dan menjadi putus asa, arahkan fokus kepada Tuhan dan renungkan janji-janji- Nya. Saya dan anda mungkin telah terjatuh, tapi kita tidak harus tetap tergeletak. Tuhan selalu siap, mau, dan mampu untuk mengangkat saya dan anda kembali. Bangkitlah, walaupun itu berarti saya dan anda membutuhkan waktu dan proses. Saya tidak bisa bilang anda akan melalui proses yang mudah, saat ini saya pun sedang berjuang mengerti apa yang saya alami bersama ka Kiki, belajar untuk memaafkan, belajar untuk rendah hati dan berpikir positif untuk menerima keputusan ka Kiki. Semua yang berhubungan dengan ka Kiki saya pasrahkan pada kehendak-Nya. Kesediaan seperti ini tidak didasarkan pada kenyataan bahwa semuanya sudah jelas dan menyenangkan. Tidak ada kejelasan dan tanpa tahu apa yang akan terjadi antara saya dengan ka Kiki, disinilah saya dituntut menyadari makna beriman. Kesediaan saya dan anda melewati masalah seberat apapun menuntut kepercayaan sepenuhnya kepada Tuhan yang disertai dengan penyerahan diri secara total : “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih”(1Kor 13:13).
Dimanapun ka Kiki berada saya akan selalu berdoa buat kaka sama seperti saya berdoa untuk kebahagiaan saya. Dimanapun posisi saya untuk kaka akan selalu ada saya saat kaka jatuh atau sendiri, I will keep this promise.
Kasih
Keputusan Iman
Menyambut Natal ini kita diingatkan akan kisah Bunda Maria yang mampu memilih keputusan menerima kabar dari malaikat Gabriel. Bunda Maria mengandung dengan Roh Kudus sebelum menikah, bukanlah hal yang mudah untuk dilalui seorang perempuan di tengah-tengah masyarakat. Bunda Maria sadar bahwa keputusannya mengandung resiko dan ketidakpastian tetapi dia memutuskan tidak menolak. Dalam resiko dan ketidakpastian Bunda Maria tetap melangkah dan terbuka pada Penyelenggaraan Ilahi. Menerima resiko penderitaan adalah keputusan iman yang teramat sulit bagi manusia.
Bagaimana manusia mampu membuat keputusan iman seperti Bunda Maria, kalau manusia tidak belajar membiasakan diri mengambil keputusan iman dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan yang mempercayai kita memberikan kesempatan untuk menentukan pilihan secara sadar dan bebas. Apakah kita juga bersedia memberikan kesempatan kepada orang yang kita sayangi dan orang yang kita benci agar mereka belajar menentukan jalan hidupnya sendiri?
Merry Christmas 2008 & Happy New Year 2009
Pernikahan
Di zaman sekarang banyak terjadi perceraian di kalangan masyarakat. Bukan hal yang aneh jika ada kisah istri yang menggugat cerai suaminya. Memang ada juga yang karena merasa diri lebih hebat dari suaminya. Karena itu ia merasa tidak tergantung sama sekali kepada suaminya secara ekonomis maupun sosial. Kalau ketergantungan emosional sudah tidak ada, maka apa lagi yang mereka rasakan perlu untuk dipertahankan? Intimasi bukankah sesuatu yang dapat dicari pada orang lain?
Dalam iman kristiani sudah jelas, “Apa yang telah dipersatukan Allah tidak dapat diceraikan oleh manusia” (Matius 19:6). Dalam kehidupan realitas kehidupan manusia pasti terbentur dengan keinginan rohani & keinginan duniawi. Manusia mencoba menyeimbangkan antara kehidupan rohani & kehidupan duniawi, tapi bisakah 2 kehidupan ini selalu berjalan beriringan? Saya menjawab, “Tentu bisa”. Dalam kehidupan perkawinan, ada proses ‘saling’ dalam arti positif pada pasangan & Tuhan menjadi dasar keputusan dalam permasalahan adalah pondasi agar terhindar dari perceraian. Bisakah 2 kehidupan ini tidak berjalan beriringan? Saya menjawab, “Sangat bisa”. Dalam kehidupan duniawi perkawinan, sangatlah sulit bagi seseorang untuk meninggalkan ego karena keyakinannya paling benar & kebahagiaan di depan mata lebih dipilih daripada belajar menghadapi masalah yang sangat rumit (instant).
Kebanyakan perceraian terjadi karena keinginan salah satu pihak yang mengingikan hal ini terjadi. Contoh istri bersikeras menggugat suaminya karena istri merasa pada level tidak bisa lagi hidup bersama dan dia yakin jika pernikahan ini terus berlangsung tidak akan sehat. Istri pun sadar bahwa secara kristiani perceraian tidak diperbolehkan dan dia pun yakin bahwa Tuhan akan memaafkan kesalahannya dalam pertobatan. Apakah karena ketiadaan Tuhan pada diri pasangan ini? Jika suami selalu berdoa agar bisa merubah sifatnya tapi selalu gagal, sang istri yang selalu berdoa agar bisa menerima kekurangan suami dan berharap Tuhan membuka pikiran suaminya berarti ada doa dan proses belajar pada pasangan ini untuk menjadi lebih baik. Disaat doa dan proses belajar sudah terlalu lama dilakukan ada ego manusia untuk mencari kebahagiaannya. Apakah istri yang meminta cerai salah? Saya ingin menjawab “ya, sang istri salah” tetapi saya pun ingin menjawab “jika saya berada di posisinya bisakah saya bertahan selamanya, bisakah saya melewati 10 tahun sang istri menunggu keajaiban Tuhan?”
Tuhan Maha Mengetahui, apakah Tuhan membiarkan kelemahan sang istri menguasai dirinya? Dimanakah Tuhan dengan segala keajaibannya? Dimana Tuhan saat sang suami membutuhkan kekuatan mencegah perceraian? Apakah doa suami dan istri kurang serius? Saya (Penulis) dan kebanyakan orang akan menjawab Tuhan bekerja dengan misterius, kita tidak akan pernah tahu maksud-Nya tapi ada hikmah di balik semua masalah.