Pernikahan

Di zaman sekarang banyak terjadi perceraian di kalangan masyarakat. Bukan hal yang aneh jika ada kisah istri yang menggugat cerai suaminya. Memang ada juga yang karena merasa diri lebih hebat dari suaminya. Karena itu ia merasa tidak tergantung sama sekali kepada suaminya secara ekonomis maupun sosial. Kalau ketergantungan emosional sudah tidak ada, maka apa lagi yang mereka rasakan perlu untuk dipertahankan? Intimasi bukankah sesuatu yang dapat dicari pada orang lain?

Ada pula istri yang menggugat cerai suaminya karena adanya KDRT. Tentu suaminya mati-matian mencitrakan dirinya tidak melakukan KDRT. Kemudian saat bersamaan mengekspose intimasi berlebihan terhadap anak-anaknya. Dengan harapan terkesan bahwa bapak yang demikian baiknya terhadap anak-anak itu tidaklah mungkin telah melakukan KDRT terhadap istrinya.

Ada pula suami yang menggugat cerai istrinya karena alasan ketidakcocokan atau percekcokan terus menerus. WIL lebih memberikan kebahagiaan yang tidak di dapat dari sang istri. Kalau rasa ‘saling’ dalam rumah tangga sudah tidak ada, maka perlukah janji pernikahan dipertahankan?

Dalam iman kristiani sudah jelas, “Apa yang telah dipersatukan Allah tidak dapat diceraikan oleh manusia” (Matius 19:6). Dalam kehidupan realitas kehidupan manusia pasti terbentur dengan keinginan rohani & keinginan duniawi. Manusia mencoba menyeimbangkan antara kehidupan rohani & kehidupan duniawi, tapi bisakah 2 kehidupan ini selalu berjalan beriringan? Saya menjawab, “Tentu bisa”. Dalam kehidupan perkawinan, ada proses ‘saling’ dalam arti positif pada pasangan & Tuhan menjadi dasar keputusan dalam permasalahan adalah pondasi agar terhindar dari perceraian. Bisakah 2 kehidupan ini tidak berjalan beriringan? Saya menjawab, “Sangat bisa”. Dalam kehidupan duniawi perkawinan, sangatlah sulit bagi seseorang untuk meninggalkan ego karena keyakinannya paling benar & kebahagiaan di depan mata lebih dipilih daripada belajar menghadapi masalah yang sangat rumit (instant).

Kebanyakan perceraian terjadi karena keinginan salah satu pihak yang mengingikan hal ini terjadi. Contoh istri bersikeras menggugat suaminya karena istri merasa pada level tidak bisa lagi hidup bersama dan dia yakin jika pernikahan ini terus berlangsung tidak akan sehat. Istri pun sadar bahwa secara kristiani perceraian tidak diperbolehkan dan dia pun yakin bahwa Tuhan akan memaafkan kesalahannya dalam pertobatan. Apakah karena ketiadaan Tuhan pada diri pasangan ini? Jika suami selalu berdoa agar bisa merubah sifatnya tapi selalu gagal, sang istri yang selalu berdoa agar bisa menerima kekurangan suami dan berharap Tuhan membuka pikiran suaminya berarti ada doa dan proses belajar pada pasangan ini untuk menjadi lebih baik. Disaat doa dan proses belajar sudah terlalu lama dilakukan ada ego manusia untuk mencari kebahagiaannya. Apakah istri yang meminta cerai salah? Saya ingin menjawab “ya, sang istri salah” tetapi saya pun ingin menjawab “jika saya berada di posisinya bisakah saya bertahan selamanya, bisakah saya melewati 10 tahun sang istri menunggu keajaiban Tuhan?”

Tuhan Maha Mengetahui, apakah Tuhan membiarkan kelemahan sang istri menguasai dirinya? Dimanakah Tuhan dengan segala keajaibannya? Dimana Tuhan saat sang suami membutuhkan kekuatan mencegah perceraian? Apakah doa suami dan istri kurang serius? Saya (Penulis) dan kebanyakan orang akan menjawab Tuhan bekerja dengan misterius, kita tidak akan pernah tahu maksud-Nya tapi ada hikmah di balik semua masalah.

Saya tidak bisa menghakimi sang istri, sang suami atau kehidupan yang tidak adil sekalipun saya ingin menyalahkan sang istri. Saya hanya mencoba menyimpulkan, keputusan yang baik pasti ada konsekuensinya apalagi keputusan yang tidak baik. Jika ingin memperoleh kebahagiaan sejati dibutuhkan perjuangan atau proses belajar yang tidak henti dan saat menyadari kita jatuh dalam kesalahan maukah anda berusaha memperbaikinya walau anda rendah di mata orang lain.